Rabu, 28 November 2012

NOVEL SURAPATI


                       Riwayat kehidupan Surapati, dikemas secara menarik oleh penulis melalui novel sejarah ini. Sumbernya diambil dari catatan-catatan tentang sejarah Surapati dari buku Babad Tanah Djawa, Geschiedenis van N.I. Dr. F.W. Stapel. Sedjarah Indonesia.Sanusi Pane, Si Untung, Melati Van Jaya. Begitulah yang tertulis di penutup novel Surapati karya Abdul Muis ini.
Novel ini menceritakan tentang riwayat hidup seorang budak. Sampai sang budak menemui masa kejayaannya sebagai seorang pemimpin. Latar waktu novel ini yaitu pada masa kerajaan Mataram dan saat kompeni atau orang Belanda merongrong habis-habisan ingin menguasai dan memperluas kekuasaannya di Indonesia. Dan, ingin menghancurkan kerajaan-kerajaan yang sedang berkuasa pada waktu itu seperti kerajaan mataram.
Di awal cerita, penulis menyuguhkan tentang kehidupan si untung (Surapati saat menjadi budak) yang diangkat oleh seorang Belanda yang bernama Edeler Moor. Meskipun diperlakukan dengan baik oleh Edeler Moor, untung tetaplah seorang budak karena ia adalah seorang bumiputera atau bangsa berwarna yang berbeda dengan keluarga Edeler Moor yang bangsa kulit putih.
 Edeler Moor mempunyai Putri yang sangat cantik bernama Suzane. Edeler Moor mempercayakan Suzane untuk dijaga baik-baik oleh Untung. Dengan Adanya Untung yang senantiasa menjaganya, Suzane merasa terlindungi. Dan, Suzane merasa lebih dekat dengan Untung daripada dengan ayahnya. Karena menganggap Untung seperti kakaknya sendiri (Usia untung dan Suzane tidak berbeda Jauh) dan karena ayah Suzane kurang perhatian padanya.
Lambat namun pasti, ternyata di antara dua anak manusia berbeda warna itu timbul benih-benih cinta. Awalnya mereka memendam perasaan mereka masing-masing. Tapi, suatu waktu mereka saling mengutarakan perasaan mereka yang lebih dari sekadar perasaan seorang kakak kepada adik. karena Edeler Moor terlalu sibuk dengan urusannya, Untung dan Suzane pun menikah tanpa sepengetahuan Edeler Moor. Namun, pada akhirnya Edeler Moor tahu bahwa putrinya sudah menikah dengan seorang budak yang telah ia percaya. Edeler Moor sangat malu sekali. Orang Belanda menganggap pernikahan dengan bangsa berwarna adalah suatu hal yang hina. Maka, tiada maaf lagi bagi anak-anak muda itu. Lalu, Untung dipenjarakan oleh Edeler Moor. Dan, di penjara itulah untung mempunyai semangat membaja untuk melawan Belanda dan ingin segera membebaskan bangsanya dari perbudakan orang Belanda. Di dalam penjara itu Untung bertemu dengan dua orang yang natinya akan menjadi teman seperjuangan Untung sampai titik darah penghabisan. Dua orang itu adalah kiyai Ebun dan Wirajuda. Akhirnya mereka bertiga mulai menyatukan kekuatan untuk memulai pemberontakan dimulai dengan pelarian mereka dari penjara yang diikuti pula oleh rekan-rekan bumiputera lainnya. Sejak dari penjara Untung belum pernah bertemu dengan Suzane istrinya, bahkan sampai di akhir cerita.
Melihat keberanian Untung, maka geramlah orang Belanda karena tindakan yang dilakukan Untung dan kawan-kawannya. Kumpeni pun menganggap bahwa Untung bukanlah lawan yang patut diremehkan. Suatu waktu nanti kumpeni yakin bahwa Untung akan menjadi ancaman bagi keberadaan mereka di tanah Jawa.
Untung menjadi buronan tentara Belanda. Kadang di tengah pelariannya, saat bertemu dengan pasukan Belanda yang menyerang ia tak segan untuk membunuhnya. Suatu waktu dalam sebuah pelarian, Untung bertemu dengan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Ruys. Namun, pada saat itu Untung dibujuk bahwa Untung akan diampuni oleh Belanda asal Untung mampu membawa Pangeran Purbaya.  Untung juga ditawari sebuah posisi yaitu sebagai Letnan. Dan, dengan posisi itu untung memutar pikir utnuk bisa bertemu dengan istrinya Suzane dan anaknya yang katanya telah berumur satu tahun kata seseorang yang disuruh Untung untuk mencari Informasi.
            Untung pun mencari pangeran Purbaya. Kalau toh akhirnya pangeran Purbaya tak mau menyerah, maka Untung tak akan memaksa. Karena memang harus begitulah kepada penjajah. Jangan menyerah! Namun, pada kenyataannya pangeran Purbaya memang ingin menyerahkan diri kepada Belanda. Pertemuan Untung dengan pangeran Purbaya ini nantinya yang akan menyambungkan jodoh antara Untung dan Raden Gusik Kusuma yang pada saat itu statusnya masih menjadi istri ke dua pangeran Purbaya. Karena tak terima suaminya menyerah kepada kompeni akhirnya Raden Gusik Kusuma meminta untuk diceraikan. Karena dalam prinsip Raden Gusik sangat pantang untuk menyerah kepada Belanda.
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, begitulah yang dialami oleh Untung, Raden Gusik, dan kawannya yang lain. Hal itulah yang memperkuat hingga akhirnya nanti Raden Gusik menjadi istri Untung. Sebelum memutuskan Raden Gusik menjadi Istrinya, Untung sangat kebingungan karena ia masih mengharapkan kehadiran Suzane dan anaknya yang waktu itu pulang ke Amsterdam. Dan, mereka mau kembali asalkan Untung mau menjadi orang Belanda. Namun, akhirnya karena kepentingan bangsa lebih penting. Maka, untung melepaskan kepentingan pribadinya untuk lebih memilih berjuang melawan Belanda. Akhirnya, Untung yang sudah menikah dengan Raden Gusik. Susah senang mereka hadapi bersama. Saat mendapatkan tekanan, dan harus segera keluar dari kerajaan Mataram, mereka hadapi dengan penuh ketegaran. Sampai pada Untung atau Surapati mendapatkan masa kejayaannya waktu memimpin di Pasuruan. Dan, Untung berhasil memperluas kekuasannya. Untung dan Raden Gusik di karunia tiga orang putera yaitu Pengantin, Surapati, dan Raden Surodilogo.
Kelak mereka yang akan meneruskan perjuangan ayahnya melalui keturunan-keturunan mereka. Sampai sekitar 80 tahun lamanya mereka bertahan menjaga kekuasaan yang telah diperjuangkan ayah mereka.  Belanda pun makin cemas karena kekuatan Surapati yang semakin tangguh. Belanda semakin gencar menyusun kekuatan untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan di Jawa. Dan, di akhir cerita Surapati wafat karena lambungnya terkena hunjaman tombak saat berperang melawan Belanda. Sebelum Surapati wafat, ia menginginkan Robert yaitu anaknya dari Suzane untuk berpihak kepada bangsa ayahnya. Namun Robert tetap mau membela bangsa Belanda. Kemudian di akhir novel ada dialog antara dua orang anak Surapati itu yaitu antara Robert dan Pangantin. “Mudah-mudahan janganlah Tuhan dikemudian hari memertemukan kita di medan perang!”
            Penulis banyak mengobarkan semangat perjuangan dan cinta tanah air. Salah satunya dalam bagian cerita Suzane yang mau kembali ke Batavia asalkan Untung mau menjadi orang Belanda. Namun, untung tidak mau karena lebih mencintai bangsanya dan harus membebaskan bangsanya dari perbudakan orang Belanda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar